Ogoh-ogoh Senduro. Foto: Dok. Info Lumajang

Tradisi Ogoh-Ogoh di Senduro: Perpaduan Seni, Ritual, dan Toleransi

Pawai Ogoh-ogoh di Senduro Lumajang 2025

Menurut Nyono, salah satu warga Senduro, pembuatan Ogoh-ogoh membutuhkan waktu sekitar sebulan. Tapi karena dikerjakan secara bersama, setiap hari pasti juga ada perkembangan.

"Soal biaya juga lumayan, untuk ukuran 3 meter bisa memakan biaya sekitar 5,5 juta Rupiah," ungkapnya.

Warga Muslim juga turut ambil peran, tidak hanya membantu membuat ogoh-ogoh, namun juga ada yang melatih tari, membantu mendesain, sampai ikut pawai. Ini menunjukkan bahwa di Senduro, perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk kerja sama.

Pawai Ogoh-ogoh akan digelar sehari sebelum Nyepi, tepatnya 28 Maret 2025. Rutenya melewati Pura Mandara Giri Semeru Agung dan beberapa titik di beberapa desa.

Ini bukan sekadar pawai biasa, tapi bagian dari ritual buat menyelaraskan alam dan kehidupan manusia.

Harapannya, setelah semuanya dibakar, energi negatif juga ikut lenyap, dan umat Hindu bisa menyambut tahun Nyepi dengan baik.

Tradisi Ogoh-ogoh di Senduro bukan sekadar pasal agama, namun juga soal kebersamaan. Di tengah dunia yang kacau tentang perbedaan suku, ras dan agama, warga di Senduro menunjukkan bahwa keberagaman juga bisa dilakukan secara bersama.