
Tradisi Ogoh-Ogoh di Senduro: Perpaduan Seni, Ritual, dan Toleransi Seni Budaya
Info Senduro - Di kaki Gunung Semeru, tepatnya di Kecamatan Senduro, warga Senduro mulai sibuk membuat Ogoh-Ogoh untuk menyambut Hari Nyepi 1947 Saka.
Kegiatan ini sudah dimulai sejak Senin (17/03). Ogoh-ogoh yang dibuat bermacam-macam bentuk, ada yang bentuk raksasa, ada juga yang mirip monyet atau karakter lainnya.
Proses pembuatannya dilakukan secara bergotong royong, tidak hanya umat Hindu, tapi juga warga Muslim ikut turun membantu.
Ogoh-ogoh terbuat dari kerangka bambu dan juga besi untuk isian kulitnya menggunakan kertas hingga styrofoam.
Kemudian Ogoh-ogoh yang sudah setengah jadi kemudian diberi cat atau warna sehingga Ogoh-ogoh tampak menjadi lebih hidup dan seram.
Bagi umat Hindu, Ogoh-ogoh ini adalah simbol Bhuta Kala, yang melambangkan energi negatif atau sifat buruk seperti serakah, marah, dan kejahatan.
Oleh sebab itu, setelah Ogoh-ogoh diarak keliling kampung, Ogoh-ogoh ini bakal dibakar dalam ritual penyucian. Filosofinya, agar semua energi negatif menjadi hilang, dan manusia bisa mulai hidup yang lebih baik lagi.