Masjid Baiturrohman di Desa Tukum, Kecamatan Tekung. Foto: Info Lumajang
Masjid-Masjid Tua Lumajang Simpan Jejak Laskar Diponegoro dan Dakwah Ulama Ragam
Info Tekung - Lumajang menyimpan jejak panjang sejarah penyebaran Islam yang tak hanya terkait dakwah ulama, tetapi juga perjuangan melawan penjajahan.
Sejumlah masjid tua yang masih berdiri hingga kini menjadi saksi perjalanan panjang penyebaran Islam di Lumajang, mulai dari langgar sederhana yang didirikan para penyiar agama hingga berkembang menjadi pusat ibadah dan pendidikan Islam. Salah satu jejak awalnya bahkan diyakini berasal dari langgar yang didirikan pengikut laskar Pangeran Diponegoro setelah pecahnya Perang Jawa.
Dalam catatan sejarah, sekitar tahun 1833 sejumlah pengikut Diponegoro yang menyingkir ke Jawa Timur membawa semangat dakwah dan perjuangan.
Mereka mendirikan langgar kecil di wilayah yang kini menjadi pusat Kota Lumajang yang kemudian berkembang dan diyakini menjadi cikal bakal Masjid Agung KH Anas Mahfudz di kawasan Taman Selatan.
Pada masa itu, masjid dan langgar tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pengajaran agama, tempat berkumpul masyarakat, serta ruang konsolidasi sosial bagi komunitas Muslim di tengah tekanan kolonial.
Tradisi menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan masyarakat telah lama berkembang di Nusantara, terutama sejak masa para ulama penyebar Islam yang dikenal sebagai Wali Songo.
Metode dakwah para wali menekankan pendekatan budaya serta pembangunan komunitas melalui langgar atau masjid yang menyatu dengan kehidupan masyarakat.